Pengertian Riya Menurut Islam: Bahaya, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya
Pendahuluan
Dalam ajaran Islam, setiap amal ibadah memiliki tujuan utama, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, tidak semua amal dilakukan dengan niat yang murni. Salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya dalam Islam adalah riya. Riya dapat merusak pahala amal, bahkan menjadikannya sia-sia di sisi Allah.
Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian riya menurut Islam, dalil Al-Qur’an dan hadis, jenis-jenis riya, ciri-cirinya, serta cara menghindarinya.
Pengertian Riya Menurut Islam
Secara bahasa, riya (الرياء) berasal dari kata ra’a yang berarti “melihat”. Dalam konteks syariat, riya berarti melakukan ibadah atau amal kebaikan dengan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan karena Allah SWT.
Para ulama mendefinisikan riya sebagai:
“Menampakkan amal kebaikan agar mendapatkan kedudukan di hati manusia.”
(Imam Al-Ghazali)
Dengan kata lain, riya adalah penyakit hati yang membuat seseorang lebih mengutamakan penilaian manusia daripada penilaian Allah.
Dalil Tentang Riya dalam Al-Qur’an
Allah SWT telah memperingatkan bahaya riya dalam banyak ayat Al-Qur’an. Salah satu ayat yang paling terkenal adalah:
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)
Ayat ini menunjukkan bahwa riya adalah sifat tercela yang bisa menghilangkan nilai ibadah, bahkan ibadah sebesar shalat.
Selain itu, Allah juga berfirman:
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan riya kepada manusia.”
(QS. Al-Anfal: 47)
Ayat ini menunjukkan bahwa riya tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam perbuatan sosial dan kehidupan sehari-hari.
Hadis Tentang Riya
Rasulullah SAW sangat menekankan bahaya riya dan menyebutnya sebagai syirik kecil. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.”
(HR. Ahmad)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang berbuat riya, maka Allah akan menampakkan riya-nya, dan barang siapa yang berbuat sum’ah (ingin dipuji), maka Allah akan menampakkan sum’ah-nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa riya adalah dosa besar yang sangat berbahaya bagi keimanan seseorang.
Jenis-Jenis Riya
Para ulama membagi riya ke dalam beberapa jenis, antara lain:
1. Riya dalam Niat
Ini adalah jenis riya yang paling berbahaya. Seseorang sejak awal beribadah bukan karena Allah, tetapi karena ingin dipuji manusia. Misalnya, bersedekah hanya agar disebut dermawan.
2. Riya dalam Amal
Seseorang beribadah karena Allah, tetapi di tengah amalnya timbul keinginan untuk dipuji orang lain. Contohnya, memperindah bacaan Al-Qur’an saat ada orang yang mendengarkan.
3. Riya dalam Penampilan
Riya juga bisa terjadi dalam cara berpakaian atau sikap, misalnya berpakaian sangat sederhana agar dianggap zuhud atau alim, padahal niatnya ingin dipuji.
4. Riya dalam Ucapan
Misalnya, sering menceritakan amal ibadah pribadi kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan pujian.
Ciri-Ciri Orang yang Terkena Riya
Ada beberapa tanda seseorang terjangkit riya, antara lain:
- Lebih semangat beribadah saat dilihat orang lain
Ketika sendirian, ibadahnya menurun atau bahkan ditinggalkan. - Senang dipuji dan kecewa jika tidak diperhatikan
Jika amalnya tidak mendapat pujian, ia merasa tidak dihargai. - Suka memamerkan amal di media sosial
Misalnya, memposting sedekah atau ibadah dengan tujuan mencari popularitas, bukan inspirasi. - Mengubah ibadah agar terlihat lebih baik di depan orang lain
Seperti memperpanjang doa atau bacaan hanya karena ingin dianggap khusyuk.
Bahaya dan Dampak Riya
Riya bukan sekadar dosa kecil, tetapi memiliki dampak yang sangat serius, di antaranya:
1. Menghapus Pahala Amal
Amal yang dilakukan dengan riya tidak akan diterima oleh Allah. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang melakukan amal dan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.”
(HR. Muslim)
2. Termasuk Syirik Kecil
Riya disebut sebagai syirik kecil karena seseorang menjadikan manusia sebagai tujuan ibadah.
3. Merusak Hati dan Keikhlasan
Riya membuat hati menjadi bergantung pada manusia, bukan kepada Allah.
4. Mendatangkan Siksa di Akhirat
Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat termasuk orang yang beramal karena riya.
Cara Menghindari Riya
Meskipun riya adalah penyakit hati yang sulit dihindari, Islam memberikan beberapa solusi untuk mengatasinya:
1. Memperbaiki Niat
Sebelum beramal, luruskan niat hanya untuk Allah. Selalu tanyakan pada diri sendiri: “Untuk siapa aku melakukan ini?”
2. Menyembunyikan Amal
Usahakan menyembunyikan amal kebaikan, terutama ibadah sunnah, seperti sedekah dan shalat malam.
3. Banyak Berdoa
Rasulullah SAW mengajarkan doa agar terhindar dari syirik dan riya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.”
4. Mengingat Akhirat
Ingatlah bahwa pujian manusia tidak berguna di akhirat, sedangkan penilaian Allah adalah yang paling penting.
5. Melatih Keikhlasan
Keikhlasan bisa dilatih dengan melakukan amal kebaikan secara diam-diam dan konsisten.
Riya di Era Media Sosial
Di zaman modern, riya semakin mudah terjadi karena media sosial. Banyak orang memamerkan ibadah, sedekah, dan kegiatan keagamaan. Meskipun niat berbagi inspirasi bisa menjadi pahala, namun jika tujuan utama adalah popularitas, maka itu bisa menjadi riya.
Oleh karena itu, umat Islam harus bijak dalam menggunakan media sosial dan selalu menjaga niat.
Kesimpulan
Riya adalah penyakit hati yang sangat berbahaya dalam Islam. Secara istilah, riya adalah melakukan amal ibadah atau kebaikan dengan tujuan mendapatkan pujian manusia, bukan karena Allah SWT. Riya dapat menghapus pahala amal, termasuk dalam syirik kecil, dan menjadi sebab siksa di akhirat.
Islam mengajarkan kita untuk selalu menjaga keikhlasan, memperbaiki niat, menyembunyikan amal, dan banyak berdoa agar terhindar dari riya. Dengan keikhlasan, amal kita akan diterima oleh Allah dan menjadi bekal di akhirat.
Semoga kita semua dijauhkan dari sifat riya dan diberi keikhlasan dalam setiap amal.